Kamis, 21 Januari 2016

Sampailah pada titik Pasrah

Sebenarnya tidak patut aku mesti bercerita disini.. Menceritakan tentang Bintang & Raya..
Andai Bintang mau mengerti, melepaskan sedikit egonya, mungkin Raya tak perlu seperti ini..
Raya tak pernah ingin menjadi no.1 dalam hidupmu (Bintang). Dia cukup paham dan mengerti untuk itu. Dia tidak ingin dia selalu jadi prioritas. Tidak. Sama sekali tidak. Tapi bisakah.. Bisakah kamu (Bintang), menjelaskan semua..semua hal yg kamu katakan padanya? Jelaskan. Jujurlah pada dirimu sendiri, jujurlah pada dirinya (Raya). Dia tahu, dia mungkin tidak bisa jadi kamu dan kamupun sebaliknya tidak bisa menjadi dia.
Haruskah semua selesai sampai disini? Haruskah dia yg mesti memulai lagi?
Ini bukan persoalan siapa yg harus mengalah, ini bukan lagi persoalan siapa yg mesti mengerti. Bukan lagi persoalan kapan menikah? Bukan. Tapi dia hanya ingin penjelasan darimu (Bintang). Penjelasan mengapa belakangan ucapanmu tidak satupun kamu wujudkan?? Padahal hal itu dulu adalah identitasmu. Dulu apa yg kamu ucap, maka itu yg kamu buat. Tapi kini, itu tidak lagi terjadi. Kenapa? Jelaskanlah..
Apa sesulit itukah dia (Raya) u/ mengerti penjelasanmu? Atau seburuk apakah kenyataan yg akan kamu katakan padanya hingga kamu tidak dapat kata-kata u/ menjelaskannya?
Dia (Raya) memutuskan u/ diam, karena ingin melihat sikapmu terhadapnya. Melihat seberapa pentingnya dia dan hubungan kalian selama ini. Dia berusaha menghalau semua pikiran buruk yg menari2 dalam hatinya.. Dia berusaha memendam semua bentuk kekecewaan karena tidak adanya penjelasan dan dia tetap terus menunggu dan menunggu.. Dia berusaha u/ tidak memperdulikanmu.
Terpikirkankah olehmu (Bintang), tentang dia (Raya).. Apakah dia sehat, apakah dia bahagia, apakah dia sedang sulit dsb..?? Sekeras itukah egomu??
Dia sudah sampai pada titik pasrah. Yaa..memasrahkan semua pada-Nya. Kepada sang pemilik kehidupan. Dia merasa sudah melakukan semuanya.. Semua yg semestinya dia lakukan. Memperjuangkan apa yg menurut dia pantas di perjuangkan.
Dia tidak akan membuat kamu jd buruk dimata siapapun. Dia tidak akan menyalahkan keadaan atau apapun dan siapapun. Yg terjadi pasti yg terbaik. Itulah keyakinananya. Hanya saja, jika masih bisa dijelaskan, berilah dia penjelasan. Bukan alasan.. Cobalah belajar sedikit melunakkan hati kita sendiri demi hal yg bisa berakhir atau di akhiri dengan baik. Karena waktu terus berjalan, menunggu bukan soal menunggu. Apa dia harus berada terus di halte yg sama, menunggu bus yg tidak di ketahui jadwal kedatangannya? Lantas, kapan dia akan sampai pada tempat yg dia sebut rumah?
Sama halnya kita diberi waktu di dunia, kapanpun DIA pemiliknya ingin menjemput, kita bisa apa??
Sehat-sehatlah kamu agar bisa mengerjakan apapun yg ingin kamu kerjakan.. Teruskanlah..teruskan jika menurutmu lebih baik seperti itu.. Dia akan belajar menerima keadaannya..

*salam Aku*