Senin, 06 Juni 2016

Tidak Mungkin Tanpa Sebab

Kalau kata orang-orang tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api..
Segala sesuatu itu juga pasti ada sebab dan alasannya, mungkin ada beberapa hal yg memang tanpa alasan.
Ketika kita merasa seseorang berubah, marah atau terlihat acuh dsb, refleksnya kita adalah "ya sudahlah, terserah..", ditambah dengan sikap semakin mengacuhkan dll. Tanpa mau tahu apa sebabnya? Atau bahkan sudah tahu sebabnya, hanya diri terlampau enggan mengakuinya.
Saya? Saya tipikal orang yg berfikir jika ada hal tidak enak terjadi sama saya itu adalah mungkin karena saya kurang baik, karena saya punya salah dan saya akan cari tahu kenapanya. Jika menurut saya, saya yg salah atau bahkan sekalipun bukan saya yg salah, saya akan tetap memutuskan minta maaf hanya untuk membuat keadaan jauh lebih baik saja.
Jadi meminta maaf itu bukan saja ketika kita salah, tapi untuk membuat sesuatu bisa lebih baik, kenapa tidak? Hanya orang yg punya ego sebegitu tingginya saja yg sangat susah mengakui kesalahannya bahkan meminta maaf.
Saya tidak suka menunda-nunda sesuatu yg menurut saya penting. Tapi masalahnya memang terkadang sesuatu yg kita anggap penting itu ternyata tidak sebegitu penting dimata orang lain.
Terkadang orang dengan mudahnya bicara "Lo bisa cerita apa saja sama gw, apa saja..". Masalahnya, kata Apa Saja disini memang tidak jelas. Karena bisa jadi kata apa saja itu hanyalah berlaku untuk semua hal kecuali tentang orang yg mengatakannya.
Saya hanya mengikuti aturan yg ada, saya melakukan apa yg menurut saya perlu saya lakukan, saya cerita.. Tapi hasilnya adalah orang tersebut tersinggung, marah, tidak terima mungkin dengan apa yg saya ceritakan atau saya tanyakan. Alhasil saya malah dicuekkin. hahahaha.. Tapi ya anggap saja apes.
Setidaknya kita tahu siapa yg tidak bisa konsisten dengan omongannya sendiri. Mungkin dia lupa kalau mungkin saja dia sering atau bahkan pernah membuat saya tersinggung. Tapi saya tidak pernah mengacuhkan orang. Sekalipun keadaaan emosi saya masih di ubun-ubun, saya tidak pernah mengacuhkan orang. Karena saya sangat menghargai setiap perkataan yg jujur sekalipun itu membuat saya sakit. Itu lebih baik.
Saat ini saya hanya berpikir, mungkin atau pastinya saya banyak salah, saya kurang beramal, saya kurang baik, masih sering nyakitin orang, masih suka buat orang susah dsb. Sehingga saya merasakan ini sekarang. Saya tidak mau menyalahakn apapun dan siapapun. Manusia punya jalanya sendiri-sendiri. Sejak awal sudah saya ikuti semua aturan mainnya. Ini bukan batas kesabaran karena sabar tiada batasan. Hanya saja memang hal yg sudah kita perjuangkan terkadang perlu kita lepaskan. Sekarang atau nanti kalau ujungnya sama-sama sakit saya rasa sama saja. Waktu yg terlewatkan biar saja, tidak perlu disesali atau ditangisi. Karena setiap orang punya waktu belajarnya sendiri dan ini adalah waktu belajar saya. Tanpa adanya waktu-waktu yg terlewat itu, saya tidak akan pernah berkembang sebagai manusia.
Jadi, saya ini bukan siapa-siapa, bukan orang penting yg harus di prioritasnkan atau pun butuh diperhatikan atau tidak boleh di acuhkan, Saya cukup sadar posisi saya.

Apapun yg saya posting di medsos saya  adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, saya berdialog dengan kata-kata quote itu untuk mensugestikan diri saya, hanya diri saya, jika ada yg tersinggung itu adalah masalah orang itu dengan dirinya..

Waktu memang bisa mengubah apapun, terlebih dengan ego yg tinggi, semua jadi seakan tak punya arti lagi..

Gud Nite People.. :)

Kamis, 02 Juni 2016

Kepercayaan

Saat ini saya tidak tahu bagaimana menamai perasaan saya..
Saya tidak tahu apa yg terjadi pada diri saya..
Apa karena kekecewaan yg berulang, apa karena kesendirian menghadapi rasa pedih ini terlalu sering terjadi, atau memang inilah puncak dari segala hal yg tertahankan selama ini??
Saya hanya menuliskan apa yg saya rasa, itulah kebiasaan saya.
Saya mencoba berbicara apa adanya dengan cara saya dan bahasa yg sangat saya jaga.
Tapi yg saya dapat adalah kebungkaman. Perasaan disingkirkan. Diabaikan. Ditinggalkan.
Saya tidak akan mengatakan apapun tentang apa yg sudah saya hadapi.
Tentang semua hal yg sudah dilewati, Tentang semua yg telah terjadi.
Tidak boleh ada kata penyesalan sedikitpun..
Tidak boleh ada kata "Andai saja..", "Jikalau..", dll yg hanya akan mendatangkan rasa sesal untuk semua yg terjadi..
Karena saya percaya apapun yg terjadi baik itu hal manis atau bahkan pahit sekalipun, itu adalah yg terbaik yg Allah berikan untuk saya..
Karena sesuatu terjadi tidak akan melebihi kapasitas kekuatan kita menghadapinya..
Tidak ada airmata, minimal di depan orang lain.. Cukup, cukup Allah saja yg melihatnya..

Selama ini saya menerima semuanya, harapan yg diberikan, janji dsb..
Jika terjadi, Alhamdulillah. Jika tidak, saya coba mengerti semampu saya.
Tapi jika hal itu sudah membawa keluarga saya, tentu akan sangat berat jika saya mesti biasa saja.
Saya butuh tindakkan nyata, bukan konfirmasi atau alasan melalui telepon.
Dan ini bukan pertama kalinya..
Saya tidak pernah memaksakan kehendak siapapun. Hanya kepastian saja. Kepastian.
Selama ini saya diam, mencoba bertahan dan terus berpikir baik. Tapi yg terjadi kembali adalah hal yg sama..
Maaf, saya tidak dapat lagi hanya diam.
Apakah banyak yg saya pinta?
Apakah terlalu berat pertanyaan saya?
Apakah saya sebegitu bersalahnya sampai harus dibuat seperti ini?
Cukup..cukup..saya saja yg merasakan..

Coba bayangkan di posisi saya. Penuh harapan akan janji yg diberikan, sekali tak terjadi karena satu dan lain hal, oke. Dua kali terjadi begitu juga, oke. Tiga kali terjadi lagi pembicaraan yg selalu membuat perih hati, pengunduran waktu lagi dan lagi..
Tapi bukan itu masalahnya, saya hanya butuh dia bicara dengan keluarganya saja tentang hubungan ini hanya untuk mendengar pendapat keluarganya saja, sepertinya itu hal yg sangat sulit dilakukannya. Sehingga terus saja pembicaraannya pada saya adalah hal mentah yg akan berubah lagi nantinya.
Ini bukan soal kepercayaan atau tidak percaya. Karena selama ini saya mempercayainya, tapi tidak juga ada tindakkan apapun jg yg menuju kemajuan, Semua pembicaraan ini selalu saja mentah bagi saya dan keluarga saya. Apa dia bisa merasakan itu?
Dan saya mesti menghadapi kenyataan kemungkinan terbesar pernikahan adik saya sendiri. Walau saya tidak permasalahkan siapa lebih dahulu, tapi ini tetap berat buat saya. Adakah dia berusaha memberikan solusi bagi saya? Saya hadapi sendiri.
Dia hanya peduli dengan kesibukkannya. Dia memikirkan kebaikkan untuk dirinya saja. Dia hanya mencintai dirinya saja.
Secara materi mungkin dia merasa sudah memberikan saya segala yg saya butuhkan. Tapi dia tahu persis semua hal itu bukan yg benar-benar saya inginkan.
Dia selalu katakan saya bisa ceritakan apapun kepadanya, tapi kenyataannya saat ini ketika saya menceritakan apa yg saya rasakan adalah kebungkaman yg saya dapatkan, menghilang dan tiada jawaban.
Inikah yg disebut dapat menceritakan segalanya?? Padahal setiap dia mengabarkan apapun kepada saya, sekalipun saya kecewa mendengarnya, adakah saya menghilang, tiada jawaban, atau bahkan mendiamkan? Setidaknya saya tidak pernah menghindar atau tidak mengangkat telepon.
Saya mencoba dewasa, mencoba menyelesaikan ini semua dengan cara yg baik dengan mengabaikan gengsi saya, ego saya dan semua rasa yg tidak enak yg saya rasakan. Saya menghubungi lebih dahulu, berpuluh kali saya menghubungi. Adakah telepon saya di angkat? Email saya dibalas? Atau pesan saya dapat tanggapan? NO!!

Tapi sudahlah, ini pasti sudah tertulis dalam perjalanan hidup saya dan pasti saya sudah menyetujui ini terjadi bahkan sebelum saya dilahirkan. Saya anggap ini adalah teguran untuk saya karena mungkin tanpa sengaja saya sudah berharap terlalu banyak padanya, bukan kepada Allah.
Jika harus berakhir seperti ini, mungkin ini adalah jawaban doa dari setiap permohonan yg kita ucapkan "Aku mohon berikan yg terbaik untuk aku ya Rabb..".

Sabtu, 07 Mei 2016

How about Life?

Hidup itu penuh kejutan..
Sesaat dalam senang, seketika bersedih, terkadang ada luka, tapi penawarpun ada..
Saya? Saya tidak marah atas apa yg terjadi dalam hidup saya..
Tapi bolehkah jika ada kecewa sedikit, hanya sedikit.. selebihnya adalah bersyukur..
Terkadang kita memprediksikan sesuatu (biasanya hal terburuk yg mungkin terjadi), tapi saat itu 'cliing' jd nyata, ternyata pahit juga..hahahaha..
Ingin marah, ingin menangis, ingin berkata kasar, ingin membanting sesuatu, ingin mengutuk dan menyalahkan.. Tapi salah siapa?? Seseorang? bukan, Keadaan? bukan. Lantas apa?
No! Hidup bukan untuk mencari kesalahan orang lain dari luka yg kita dapat, dari kecewa yg kita rasa atau dari sedih yg ada..
Tiada yg salah untuk semua ini. Karena dalam hidup, kita sudah diberikan banyak pilihan. Dan diri kita sendiri yg memilih untuk melalui jalan ini. Lalu kenapa harus marah?
Memang tak dapat dipungkiri bahwa semakin usia bertambah, kelak kita akan lebih sinis dengan kehidupan. Kenapa? Karena hal-hal pahit itu kita sudah hapal rasanya.
Sinis bukan membenci, mungkin itu sebagai pertahanan diri agar kita tidak tumbang oleh kekecewaan. Menangis sesaat memang bisa jadi obat, tetapi tidak perlu ditampakkan.
Saya? Sejak awal bercita-cita ingin jadi orang baik. Disakiti tak membalas, dikecewakan tetap mendoakan, dijatuhkan tidak mengutuk. Semoga itu tidak pernah berubah. Kenapa? Karena pembalasan setiap perbuatan buruk pada diri kita adalah rasa bersalah bagi mereka yg berbuat.
Lagi pula apa yg kita buat, itu yg kita dapat..
Seiring berjalannya waktu, saya selalu berkata ingin menghentikan usia saya di 27th. Bukan mati. Hanya tidak ingin merasa tua saja. Tahun ini dan selanjutnya tidak ada perayaan hari ulang tahun. Bahkan saya ingin melupakan kapan hari kelahiran saya. Karena yg penting bukan kapan kita lahir dan bagaimana. Tetapi bagaimana kita meninggal nanti. Itu saja..
Terima Kasih untuk sedikit kekecewaan yg ada.. :)

Senin, 07 Maret 2016

Pernikahan Sahabat

Assalamuallaikum.. (^_^)
Okey, sekarang sudah masuk bulan Maret 2016. Akhir bulan nanti sabahat daku Peonk alias Heny akan menikah. Daku excited sekali ikut serta repot-repot membantu dia. Daku bahagia, happy, senang..walaupun semakin dekat waktu, entah kenapa semakin ada rasa ketakutan akan sepi. Iya, tiba-tiba daku takut sepi. Karena daku sadar, meski dia tetap tinggal dekat denganku, tapi semua pasti berubah.. Bisa daku bilang, Peonk lah yg sekian lama tahun-tahun lalu yg menjadi pendengar terbaik daku. No secret with her.
Oke, daku cerita soal daku dan Peonk. :)
Kita kenal sejak TK, kami tinggal bertetangga. Tapi semakin tambah usia, kamipun punya teman masing2. Daku dekat lagi dengannya setelah masuk SMP. Meski beda sekolah, tapi kita mulai sering main bareng lagi. Bahkan bisa dibilang, dy lah yg mengenalkan daku dengan dunia maya ini.hahahahaah.. Waktu itu masih jaman MIRC. Dy yg ngajarin daku semuanya soal itu (Chating. friendster). Bahkan kita pernah jadi manusia paling iseng, setiap malam minggu kita selalu pergi ke warnet atau wartel (warung telepon), hanya u/ menelpon teman2 dunia maya kita (selalu bawa buku telpon magnet yg isinya no telpon dan daerahnya juga nama orangnya).hehehe. Konyol banget kalau ingat itu sekarang. Tapi kita melewati itu semua, masa2 cupu, konyol, bodoh, bahkan pernah pada suatu waktu kita punya kisah yg sama. Hanya kita yg tahu (Allah juga) :)
Aaahh..begitu banyak kejadian yg kita lewati sama-sama, beranjak remaja, dewasa dan penuh masalah dari pertemanan, kerjaan juga kelurga apalagi percintaan. Nangis bareng, bodoh bareng, ngakak bareng. Terlalu banyak, karena hampir sebagian waktuku kita selalu sama-sama. Dulu masih berempat dengan Cici Yeni dan Mba Irma, namun sejak mereka menikah, ya fix hanya daku dan peonk yg menghabiskan waktu bersama. Herannya selalu saja ada cerita konyol kalau kita jalan berdua, kalau bukan dy pelakunya, ya daku pelakunya..hahahaha.. Bahkan kita sangat pandai menertawai diri sendiri.. :)
Oke, setelah dy menikah daku yakin akan ada hal baru yg sedang menunggu daku u/ dilakukan. Akan ada hal-hal lain yg nnti akan muncul dan bisa membuat daku sibuk dan lupa akan kesepian. Mungkin daku akan bermain agak jauh, karena yg belum menikah rumahnya jauh2.. :D
Soal pernikahan, daku ga mau sedih-sedih lagi.. Daku percaya Allah sudah atur semuanya, daku hanya perlu menjalaninya dengan baik. Daku ga mau lagi ngoyo-ngoyo soal itu. Biar aja Takdir mau bawanya seperti apa. Dengan pilihanku atau pilihan-Nya, daku tidak pernah tahu, tidak juga menutup kemungkinan2 itu.. Ya..seperti inilah yg daku rasa saat ini, percayalah..adakalanya seseorang bisa sampai dimana dy akhirnya merasa semuanya biasa az, berjalan karena memang seharusnya berjalan. Bukan berhenti berusaha, tapi memberi kesempatan waktu u/ menjawab semuanya. Itu saja.. :)
oh iya..mungkin setelah peonk nikah, sepertinya daku akan butuh buku diary lagi..hihihi..
"Selamat peonk sayang, semoga semuanya nanti berjalan lancar, dimudahkan semuanya, menjadi keluarga sakinah.. Daku hanya punya waktu dan tenaga u/ bantu dikau semaksimal yg daku bisa, hanya itu, semoga bisa sedikit meringankan beban dikau mengurus semuanya sendiri.. Happy always dear.. Sorry, belakangan daku ngga bisa kontrol emosi setiap cerita, daku menjadi sangat emosinal (cengeng).hehehe.. Selamat bahagia diaryku, doa terbaik u/ mu.." (^_^)

Kamis, 21 Januari 2016

Sampailah pada titik Pasrah

Sebenarnya tidak patut aku mesti bercerita disini.. Menceritakan tentang Bintang & Raya..
Andai Bintang mau mengerti, melepaskan sedikit egonya, mungkin Raya tak perlu seperti ini..
Raya tak pernah ingin menjadi no.1 dalam hidupmu (Bintang). Dia cukup paham dan mengerti untuk itu. Dia tidak ingin dia selalu jadi prioritas. Tidak. Sama sekali tidak. Tapi bisakah.. Bisakah kamu (Bintang), menjelaskan semua..semua hal yg kamu katakan padanya? Jelaskan. Jujurlah pada dirimu sendiri, jujurlah pada dirinya (Raya). Dia tahu, dia mungkin tidak bisa jadi kamu dan kamupun sebaliknya tidak bisa menjadi dia.
Haruskah semua selesai sampai disini? Haruskah dia yg mesti memulai lagi?
Ini bukan persoalan siapa yg harus mengalah, ini bukan lagi persoalan siapa yg mesti mengerti. Bukan lagi persoalan kapan menikah? Bukan. Tapi dia hanya ingin penjelasan darimu (Bintang). Penjelasan mengapa belakangan ucapanmu tidak satupun kamu wujudkan?? Padahal hal itu dulu adalah identitasmu. Dulu apa yg kamu ucap, maka itu yg kamu buat. Tapi kini, itu tidak lagi terjadi. Kenapa? Jelaskanlah..
Apa sesulit itukah dia (Raya) u/ mengerti penjelasanmu? Atau seburuk apakah kenyataan yg akan kamu katakan padanya hingga kamu tidak dapat kata-kata u/ menjelaskannya?
Dia (Raya) memutuskan u/ diam, karena ingin melihat sikapmu terhadapnya. Melihat seberapa pentingnya dia dan hubungan kalian selama ini. Dia berusaha menghalau semua pikiran buruk yg menari2 dalam hatinya.. Dia berusaha memendam semua bentuk kekecewaan karena tidak adanya penjelasan dan dia tetap terus menunggu dan menunggu.. Dia berusaha u/ tidak memperdulikanmu.
Terpikirkankah olehmu (Bintang), tentang dia (Raya).. Apakah dia sehat, apakah dia bahagia, apakah dia sedang sulit dsb..?? Sekeras itukah egomu??
Dia sudah sampai pada titik pasrah. Yaa..memasrahkan semua pada-Nya. Kepada sang pemilik kehidupan. Dia merasa sudah melakukan semuanya.. Semua yg semestinya dia lakukan. Memperjuangkan apa yg menurut dia pantas di perjuangkan.
Dia tidak akan membuat kamu jd buruk dimata siapapun. Dia tidak akan menyalahkan keadaan atau apapun dan siapapun. Yg terjadi pasti yg terbaik. Itulah keyakinananya. Hanya saja, jika masih bisa dijelaskan, berilah dia penjelasan. Bukan alasan.. Cobalah belajar sedikit melunakkan hati kita sendiri demi hal yg bisa berakhir atau di akhiri dengan baik. Karena waktu terus berjalan, menunggu bukan soal menunggu. Apa dia harus berada terus di halte yg sama, menunggu bus yg tidak di ketahui jadwal kedatangannya? Lantas, kapan dia akan sampai pada tempat yg dia sebut rumah?
Sama halnya kita diberi waktu di dunia, kapanpun DIA pemiliknya ingin menjemput, kita bisa apa??
Sehat-sehatlah kamu agar bisa mengerjakan apapun yg ingin kamu kerjakan.. Teruskanlah..teruskan jika menurutmu lebih baik seperti itu.. Dia akan belajar menerima keadaannya..

*salam Aku*

Rabu, 16 Desember 2015

Ceritaku Tentang Aku

Sejak November 2012 aku tidak lagi merasakan gajian. Atau dalam arti aku menganggur. Sebenarnya menganggur tidak berarti aku tidak bekerja, hanya saja penghasilan tetap belum ada. Tapi aku bersyukur, meski kecil tapi aku berhasil membangun usahaku sendiri. Setidaknya aku sedikit mengalami kemajuan.
Ya Rabb..aku ingin bekerja lagi. Ingin berpenghasilan lagi. Ingin membelikan semua kebutuhan keluargaku lagi. Mama, Papa, Adik-adiku dan yg lainnya. Tapi kenapa aku seakan putus asa dengan banyaknya lamaran yg aku sebar tapi tidak juga kunjung ada pekerjaan yg datang. Tiba-tiba saja kepercayaan diriku merosot drastis. Aku merasa tidak memiliki kemampuan atau keterampilan. Aku merasa jika tak ada koneksi maka akan sulit mendapatkan pekerjaan kembali. Tapi jauh dalam hatiku ya Rabb, aku tahu aku mempunyai Engkau, Allah yg maha kaya, maha segalanya. Aku percaya masa itu akan datang jika Engkau menghendaki aku bekerja kembali seperti dulu, berpenghasilan lagi.
Boleh aku tulis harapan dan doaku di tahun depan??
1. Aku ingin khatam Al-Quran
2. Aku ingin dilamar dan menikah. (panjang jodoh, setia, murah rejeki, sehat sampai tua)
3. Aku ingin bekerja lagi, berpenghasilan bulanan lagi.
4. Aku ingin memiliki anak laki-laki dan perempuan yg soleh dan solehah. Yang aku besarkan dan aku didik sendiri dengan suamiku. Bukan dengan nenek atau kakeknya apalagi orang lain.
5. Aku ingin tetap menjalankan usahaku dan memajukannya lagi, mengembangkannya lagi agar bisa menjadi penghasilan tambahan bagiku.
6. Aku ingin punya rumah sendiri, aku yg menatanya sendiri. Rumah dengan halaman rumput yg cukup besar, taman, ruang tidur yg nyaman, ruang keluarga yg hangat, musola kecil dalam rumahku yang selalu menjadi tempat kami memuji-Mu ya Rabb.
7. Aku ingin punya mobil sendiri.
8. Aku ingin suamiku lebih maju daripada aku.
9. Aku ingin jadi orang kaya yg solehah. Ya..aku ingin membaginya pada orang lain.
10. Aku sudah tidak sabar dengan rencana indah-Mu untukku. (^_^)

Jumat, 04 Desember 2015

Kehidupan Dalam Qubic

Kali ini aku akan katakan semua kecewaku. Bukan untuk cari perhatian atau pembelaan. Karena blog ini tidak ada pembacanya selain aku.
Desember 2015. Harusnya ini bulannya kita. Ya..6 th sudah status itu terpasang di sosial media facebook.
Desember 2015. 2 bulan sudah lewat dari bulan yang kamu katakan bahwa kamu akan ke rumah. Tapi belum juga ada penjelasan darimu tentang kenapa? Kalau kamu berharap aku bertanya lagi, jawabannya adalah tidak. Aku tidak akan bertanya lagi. Cukup. Iy sudah cukup bagiku bertanya dan ujungnya hanya sesak kurasa dengan jawaban-jawabanmu yang tak kunjung merealisasikan rencanamu sendiri. Bukan aku yang merencanakan kapan begini dan begitu. Karena rencanaku sudah jauh terlewat. Kamu tidak juga menjelaskan kenapa sebab belum terlaksana, Kalau dikatakan gantung, iya aku merasa begitu. Jika dikatakan diberi harapan, iya aku juga merasa begitu.
Tapi kamu tenang saja, aku punya pemikiran yang sangat bagus akan ini semua. Apapun yang terjadi saat ini dan nanti, itu adalah atas izin-Nya. Jadi baik atau buruk, aku tidak akan menyesalinya atau bahkan mencacinya. Tidak. Karena aku beranggapan itu adalah jawaban dari segala doa yg kupanjatkan. "Aku memohon yang terbaik dari Mu y Rabb ku, pilihan-Mu, rencana-Mu..".

Apa selama aku kembali ke rumahku kamu tahu tentang aku? Aku rasa tidak. Karena aku tahu kamu tidak sekreatif itu untuk cari tahu tentangku. Jika kamu berkata "kenapa tidak cerita? padahal aku tidak melarang dan selalu terbuka tentang apapun..". No. Aku tidak mau kamu membalikkan semua ceritaku nantinya seperti yang sudah-sudah. Karena ini aku lebih memilih membaginya dengan sahabatku. Sebenarnya sedih, karena aku terbiasa bercerita denganmu, tapi berkat sikapmu beberapakali menyinggungku, aku akan berfikir dua kali untuk menceritakannya. Mungkin nanti saja saat aku sudah kembali berkarir dan sibuk seperti dulu.

Oh ya..masih ada 2 bulan lagi dari bulan yg kamu katakan, Februari. Apa itu masih mungkin?
Aku kehabisan kata setiap keluargaku bertanya kapan kamu datang? Apa kamu pernah memikirkan itu.. Mama, adikku, tante, oma, nenek dll.. yang sebelumnya sempat aku menjawab, "Nanti, Oktober atau November..". Dan ternyata, taraaa..kita sudah di Desember dan tak ada pembahasan itu lagi..
Maaf kalau aku tidak bisa lagi mengkontrol pikiran mereka tentangmu. Itu diluar kuasaku saat ini. Aku tidak menyalahkanmu atau mereka. Tidak ada yang salah untuk itu.

Aku harap kamu tidak tersinggung saat kamu tidak sengaja membaca tulisan ini. Aku hanya tidak tahu mesti menulis dimana untuk terapi diriku sendiri. Diary? Sejak kenal gadget, tulisan tanganku semakin buruk. Hanya ini satu-satunya akun yang tidak ada pengikutnya dan tidak ada komentar.

Sebelum masuk tahun baru, maaf aku harus ambil keputusanku sendiri. Mungkin itu yang kamu inginkan. Agar tiada rasa bersalah. Karena memang tidak salah mungkin. Aku yang memulai hubungan ini dan aku yang akan menentukannya nanti. Begitukan aku? Egois. Yang semua adalah keputusanku sendiri. :)

Seperti asing. Terasing oleh orang yang aku sayangi. Terasing didalam rumah sendiri. Tapi aku bersyukur, setidaknya aku tidak Terasing oleh Tuhanku..