Saat ini saya tidak tahu bagaimana menamai perasaan saya..
Saya tidak tahu apa yg terjadi pada diri saya..
Apa karena kekecewaan yg berulang, apa karena kesendirian menghadapi rasa pedih ini terlalu sering terjadi, atau memang inilah puncak dari segala hal yg tertahankan selama ini??
Saya hanya menuliskan apa yg saya rasa, itulah kebiasaan saya.
Saya mencoba berbicara apa adanya dengan cara saya dan bahasa yg sangat saya jaga.
Tapi yg saya dapat adalah kebungkaman. Perasaan disingkirkan. Diabaikan. Ditinggalkan.
Saya tidak akan mengatakan apapun tentang apa yg sudah saya hadapi.
Tentang semua hal yg sudah dilewati, Tentang semua yg telah terjadi.
Tidak boleh ada kata penyesalan sedikitpun..
Tidak boleh ada kata "Andai saja..", "Jikalau..", dll yg hanya akan mendatangkan rasa sesal untuk semua yg terjadi..
Karena saya percaya apapun yg terjadi baik itu hal manis atau bahkan pahit sekalipun, itu adalah yg terbaik yg Allah berikan untuk saya..
Karena sesuatu terjadi tidak akan melebihi kapasitas kekuatan kita menghadapinya..
Tidak ada airmata, minimal di depan orang lain.. Cukup, cukup Allah saja yg melihatnya..
Selama ini saya menerima semuanya, harapan yg diberikan, janji dsb..
Jika terjadi, Alhamdulillah. Jika tidak, saya coba mengerti semampu saya.
Tapi jika hal itu sudah membawa keluarga saya, tentu akan sangat berat jika saya mesti biasa saja.
Saya butuh tindakkan nyata, bukan konfirmasi atau alasan melalui telepon.
Dan ini bukan pertama kalinya..
Saya tidak pernah memaksakan kehendak siapapun. Hanya kepastian saja. Kepastian.
Selama ini saya diam, mencoba bertahan dan terus berpikir baik. Tapi yg terjadi kembali adalah hal yg sama..
Maaf, saya tidak dapat lagi hanya diam.
Apakah banyak yg saya pinta?
Apakah terlalu berat pertanyaan saya?
Apakah saya sebegitu bersalahnya sampai harus dibuat seperti ini?
Cukup..cukup..saya saja yg merasakan..
Coba bayangkan di posisi saya. Penuh harapan akan janji yg diberikan, sekali tak terjadi karena satu dan lain hal, oke. Dua kali terjadi begitu juga, oke. Tiga kali terjadi lagi pembicaraan yg selalu membuat perih hati, pengunduran waktu lagi dan lagi..
Tapi bukan itu masalahnya, saya hanya butuh dia bicara dengan keluarganya saja tentang hubungan ini hanya untuk mendengar pendapat keluarganya saja, sepertinya itu hal yg sangat sulit dilakukannya. Sehingga terus saja pembicaraannya pada saya adalah hal mentah yg akan berubah lagi nantinya.
Ini bukan soal kepercayaan atau tidak percaya. Karena selama ini saya mempercayainya, tapi tidak juga ada tindakkan apapun jg yg menuju kemajuan, Semua pembicaraan ini selalu saja mentah bagi saya dan keluarga saya. Apa dia bisa merasakan itu?
Dan saya mesti menghadapi kenyataan kemungkinan terbesar pernikahan adik saya sendiri. Walau saya tidak permasalahkan siapa lebih dahulu, tapi ini tetap berat buat saya. Adakah dia berusaha memberikan solusi bagi saya? Saya hadapi sendiri.
Dia hanya peduli dengan kesibukkannya. Dia memikirkan kebaikkan untuk dirinya saja. Dia hanya mencintai dirinya saja.
Secara materi mungkin dia merasa sudah memberikan saya segala yg saya butuhkan. Tapi dia tahu persis semua hal itu bukan yg benar-benar saya inginkan.
Dia selalu katakan saya bisa ceritakan apapun kepadanya, tapi kenyataannya saat ini ketika saya menceritakan apa yg saya rasakan adalah kebungkaman yg saya dapatkan, menghilang dan tiada jawaban.
Inikah yg disebut dapat menceritakan segalanya?? Padahal setiap dia mengabarkan apapun kepada saya, sekalipun saya kecewa mendengarnya, adakah saya menghilang, tiada jawaban, atau bahkan mendiamkan? Setidaknya saya tidak pernah menghindar atau tidak mengangkat telepon.
Saya mencoba dewasa, mencoba menyelesaikan ini semua dengan cara yg baik dengan mengabaikan gengsi saya, ego saya dan semua rasa yg tidak enak yg saya rasakan. Saya menghubungi lebih dahulu, berpuluh kali saya menghubungi. Adakah telepon saya di angkat? Email saya dibalas? Atau pesan saya dapat tanggapan? NO!!
Tapi sudahlah, ini pasti sudah tertulis dalam perjalanan hidup saya dan pasti saya sudah menyetujui ini terjadi bahkan sebelum saya dilahirkan. Saya anggap ini adalah teguran untuk saya karena mungkin tanpa sengaja saya sudah berharap terlalu banyak padanya, bukan kepada Allah.
Jika harus berakhir seperti ini, mungkin ini adalah jawaban doa dari setiap permohonan yg kita ucapkan "Aku mohon berikan yg terbaik untuk aku ya Rabb..".