Sabtu, 25 Februari 2012

Me & Pa

Belakangan baru sadar kalau aku sudah besar yah.. Padahal kayaknya baru kemarin aku tidur masih di angkat papa u/ di pindahin ke kamar. Dulu setiap papa pulang kerja, kebiasaanya adalah masuk kamar anaknya terus di absenin satu per satu dan terkadang aku suka ngerjain papa dengan ngumpet di belakang pintu, trus si papa tanya sama mama, "si nanda mana ma?", trus aku kagetin papa dari belakang, hehehe.. habis itu baru aku tidur.
Dulu aku juga masih ingat, kala musim barbie waktu itu, teman-temanku sudah punya dan aku tidak. Tapi aku tidak merengek minta harus di belikan, tetapi waktu itu aku ingat papa pulang sore dan ajak aku jalan, aku pikir hanya jalan-jalan saja, ternyata papa ajak aku beli barbie di Sabar Subur Jati (salah satu swalayan).
Dari dulu aku paling dekat sama papa, ingat waktu kecil aku selalu potong rambut pendek karena mau sama dengan papa. Waktu aku sempat sekolah di rumah nenek, ada acara tour dari kantor ke pelabuhan ratu, papa cuma ajak aku, mungkin karena waktu itu adik aku masih kecil jd ngga di ajak (hehehe), waktu itu papa turun dari bis karena macet, tapi pas bis jalan dan papa ngga ada, aku nangis kejer manggil papa u/ naik. Begitu juga waktu aku ke Medan sama mama waktu kecil, papa terpaksa ikut bis kami sampai merak, pas aku sudah di kapal, baru dia turun lagi dan saat aku sadar papa ngga ada, aku nangis lagi dan di bujuk mama.

Begitu juga waktu evol, monyet peliharaan aku mati. Saat aku nangis, papa yg datang peluk aku dan tenangkan aku... Hmmm...ternyata kini aku sudah beranjak dewasa mesti belum sepenuhnya, dan hal yg hilang adalah saat tidak bisa leluasa peluk papa lagi atau bahkan untuk bilang bahwa "Nda sayang papa dan papa adalah yg terhebat..".

Papa itu orang yg sedikit susah di tebak, keras kepala, tapi papa selalu ingin membantu orang, sekalipun dirinya juga membutuhkan bantuannya. Papa selalu mengajarkan u/ instropeksi diri jika tertimpa musibah, sakit atau sedang dapat susah hati. Jangan menyalahkan apapun dan siapapun. Papa juga mengajarkan tentang Ikhlas, apa yg hilang berarti itu bukan milik kita atau belum berkah di kita, belum rejeki.
Meski papa mungkin tidak sempurna, tapi aku tahu Allah lebih mengerti dia di banding siapapun, dan aku percaya kalau doaku u/ papa hanya tinggal menunggu waktu yg tepat bagi Allah u/ mengabulkannya.

Papa paling tidak banyak bicara, tidak banyak aturan. Papa selalu percayakan kepada anak-anaknya. Dia selalu memperhatikan tanpa banyak bicara.
Percaya ngga? kalau sampai saat ini, walau aku sudah kerja dan punya penghasilan, terkadang aku masih suka minta jajan sama papa,hihihihi..


Tak dipungkiri, aku juga orang yg paling sering bertengkar sama papa. Bahkan sampai kabur dari rumah. Dan pernah juga ngga teguran sama papa sampai 1 bulan karena aku di marahin. Tapi aku juga ingat kalau aku pernah buat dia nangis karena aku. Dan aku ngga akan lupa itu. Sejak itu, aku sadar, aku boleh lakukan apapun tapi aku tidak akan buat papa nangis lagi karena aku..


"Dear Allah, aku mohon berikan kesehatan pada kedua orang tuaku, mama dan papaku. Izinkan mereka u/ kami berikan kebahagiaan seperti yg selalu mereka berikan selama kami masih dalam alam rahim hingga alam dunia. Izinkan mereka u/ dapat selalu mendampingi kami menemukan jodoh kami, sampai kami mempunyai keluarga dan mereka bermain dengan cucu mereka. Izinkn mereka selalu bahagia di masa tuanya. Dan selalu berikan mereka dan kami semua hidayah-Mu ya Allah.. (amin)."







Minggu, 05 Februari 2012

Ini Bukan 'Lomba'

Aku baru tahu kalau aku tidak boleh tersinggung. Baru tahu juga, kalau membicarakan masa depan itu segitu ribetnya. Gimana menjalaninya nanti, kalau teorinya saja sudah sepanjang itu. Mungkin aku yg terlalu sederhana atau memang dia yg terlalu panjang pemikirannya. Aku membicarakan ini, bukan semata-mata karena inginku. Bukan karena sahabat2ku sudah memulainya. Aku membicarakanya sebenarnya hanya ingin tahu sampai mana aku di pertahankan, sampai mana aku di inginkan. Dan hal ini pun karena papa. Belakangan beliau lebih sering menyindir aku, awalnya aku pikir hanya sindiran becanda saja, tapi aku rasa kini itu jadi hal serius.
Aku bukannya tidak gugup membicarakannya. Tapi kalau tidak ada yg mulai berani bicarakan ini, lalu bagaimana? Aku tidak ingin mentargetkan apapun, apalagi ini masalah jodoh. Siapa yg tahu?
"Ade ingin mengejar teman2 ade itu kan...". Jujur saja ini masih terngiang di telingaku. Sedih dengarnya. Mungkin ini bukan masalah besar. Yah, ini cuma masalah kecil. Sangat kecil mungkin. Tapi kenapa aku tersinggung?? Pengertiannya jadi berbeda. Seakan-akan aku ini sedang berlomba supaya tidak jadi yg terakhir. Bukan, bukan itu. Ini bukan perlombaan. Aku tidak sedang mengikuti turnamen apapun. Aku cuma ingin tahu kemana tujuan kita, perkiraan waktu yg kita butuhkan u/ bisa sampai tujuan, dan berapa budget yg di perlukan u/ sampai di tujuan itu? Hanya itu.
Tapi yg aku dapat, kok sepertinya aku yg mesti menentukan semuanya. Aku yg menentukan semua. Lalu kalau itu nanti tidak sesuai ketentuan maka aku hilang. Hilang begitu saja. Semudah itu? Seakan-akan aku memaksakan kehendakku.
Apa aku iri dengan sahabat2ku? Mungkin bukan iri. Tapi aku hanya ingin seperti mereka. Aku tahu seperti apa mereka sebelum mereka memulainya. Tapi yg ku lihat kini mereka jauh berubah lebih baik setelah memulainya. Berubah dalam sikap dan ibadahnya. Yah, ibadah. Punya imam, bisa membimbing, saling mendukung satu dan lainnya. Ibadah, yah.. itu yg aku inginkan. Aku ingin berhenti dari rasa bersalah pada diriku. Hanya itu. Karena aku cukup tahu diriku sendiri. Jika seperti ini terus maka apa lagi yg dicari setelah memulainya nanti?