Mungkin aku yg belakangan nie terlalu emosional dan dy tidak mengerti. Aku hanya bosan atau jenuh saja. Belakangan jarak ini seakan jadi masalah, terkadang ada sedikit beban yg tak terkatakan. Bukan salah dy memang, mungkin salah ku. Tapi ketidak tepatan waktu yg sering terjadi di antara kita, hal itu yg terkadang memancing mood aku. Saat aku ingin bicara, saat aku punya waktu lebih santai, justru dy sudah lelah, ingin tidur dan terkadang memaksakan u/ sediakan waktu tapi malah tidak menyimak. Akhirnya aku makin kesel sendiri.
Aku sedih. Setelah beberapa tahun ini aku merasakan kebahagiaan, tapi aku tidak mengerti. Nyatakah kebahagiaan itu atau justru karena aku memaksa membahagiakan diriku? Inikah dilema itu? Ingin aku menjerit, berlari dan terus berlari sampai menghilang tak di temukan. Bolehkah kalau aku bilang Tuhan? Bahwa keadaan belakangan ini tidak seperti yg aku harapkan. Aku tidak nyaman! Aku yg salah dan hanya aku!
Cinta ini mungkin aku yg memaksanya. Memaksanya membahagiankan aku. Memaksanya bersabar terhadapku. Memaksanya mengerti aku. Mungkin saja kan? Mungkin dy tidak bahagia bersamaku, tidak nyaman denganku atau bahkan tidak menginginkan aku.
Kenapa aku selalu yg terbodoh. Terbodoh u/ membuat diriku berharga di mata lelaki. Ingin terlihat baik malah jadi murahan. Ingin menyenangkan malah jadi konyol. Ingin bertobat malah maksiat. Apa ini semua karena aku membohongi hatiku Tuhan?
Aku ingin menangis saat ini. Dan tak ingin di hentikan olehnya. Karena aku tidak ingin lagi membendungnya. Cukup sudah, cukup! Aku tak ingin dy mengalah lg u/ ku. Atau aku berusaha mengerti dengan menelan kekecewaan yg aku rasakan.
Aku hanya ingin pasti saja. Hanya itu. :(